Kamis, 28 Mei 2015

Renungan 24 Mei 2015

Komitmen Terhadap Keluarga Anda

Sambungan 17 Mei 2015
DR. Nick & Nancy Stinnett; Joe & Alice Beam

Anggota keluarga yang kokoh sering menyebutnya tradisi keluarga:

Kami ingin anak-anak kami mempunyai perasaan siapa dan di mana mereka berada dalam sejarah. Kami meneruskan tradisi dari keluarga saya dan keluarga isteri saya membuat "OYSTER STEW" dan menyanyikan lagu-lagu Natal pada malam sebelum Natal selalu kami lakukan dan anak-anak tahu bahwa nenek dan kakek melakukannya semasa muda mereka. Itu memberikan perasaan berkesinambungan.
Saya menelusuri akar silsilah keluarga dan senang melakukannya tetapi daftar nama dan tanggal saja tidak menarik bagi anak-anak. Jadi kami membeli sebuah kaset rekaman dan meminta anggota keluarga yang lebih tua - kakek/nenek, bibi dan paman - merekam apa yang diingatnya: tempat tinggal, pekerjaan, bagaimana merayakan hari-hari besar. Kami juga mulai mengunjungi tempat-tempat di mana keluarga pernah tinggal.
Kami beruntung mendapatkan peternakan dan rumah tua dari kakek/nenek, buyut, dan waktu libur kami pakai untuk mengunjungi beberapa desa dan mencari di kantor pengadilan dan kuburan peninggalan keluarga.
Tiap malam kalau saya menidurkan bayi, saya melakukan suatu upaya kecil - juga kalau ia sudah tidur. Saya katakan "Mama mencintaimu, Ayah mencintaimu, kakak-kakak mencintaimu. Nenek mencintaimu. Kamu anak yang manis, dan kami senang kau bersama kami.".

6. Komitmen Jangka Panjang
Keterangan merupakan aspek penting dari komitmen dalam keluarga. Dalam sebuah lokakarya "memperkaya Perkawinan" belum lama ini, para pasangan berbicara mengenai kedudukan sebagai orangtua. "Apa prestasi terbaik Anda sebagai ayah?" Pertanyaan diajukan kepada seorang ayah dengan tiga anak. Matanya membelalak dan wajahnya tampak terkejut sementara pikirannya melayang kembali ke masa lalu. Akhirnya, ia bersuara dengan nada berbisik: "Saya tetap bertahan di sana."
Pria tersebut, yang tampaknya seorang ayah yang baik, menerangkan bahwa ia dan keluarganya menghadapi banyak kesulitan dan tragedi. Sering ia bertanya kepada diri sendiri bagaimana mungkin dapat mengatasinya. Tiba-tiba matanya sembab di depan kelompoknya sementara mengingat kembali bagaimana selama bertahun-tahun saling komitmen dalam keluarga telah mampu mengatasi masa-masa yang kelam. Dan ia merasa bangga dan penuh rasa syukur.
Keluarga kokoh jelas mengemukakan bahwa komitmen adalah untuk jangka waktu yang lama. Berkali-kali dikatakan bahwa mereka berharap keluarganya dapat bertahan.

Kami dibesarkan untuk melihat perkawinan sebagai suatu ikatan sampai maut memisahkan kami. Saya tidak dapat mengatakan bahwa kami tidak pernah (jangan pernah mengatakan tidak pernah) akan bercerai, 
tetapi kami belum pernah mempertimbangkannya dan kami telah kawin selama dua puluh enam tahun.
Anak laki saya duduk di kelas tiga sekolah menengah dan saya menghadapi kenyataan bahwa hubungan dengannya akan sangat berubah. Ia akan berdiri sendiri, kawin dan mempunyai anak beberapa tahun ke depan. Saya mengingatkannya bahwa hidup akan berbeda, tetapi saya tetap ibunya. Itu yang tidak pernah berubah.

BUNGAN MAWAR DENGAN NAMA LAIN
Anda mungkin mencatat bahwa cinta kasih tidak termasuk dalam enam rahasia dalam keluarga yang kokoh. Anda juga melihat bahwa hal itu juga tidak terdapat dalam bab ini. Hali itu disebabkan karena kebanyakan orang berpikir bahwa cinta kasih merupakan suatu perasaan - rasa mulas di perut, rasa geli di jari kaki, rasa berbunga-bunga ketika mencium. Sudah tentu berbagai perasaan itu sangat indah. Sungguh menyenangkan kalau kehadiran suami/isteri menimbulkan rasa berbinar-binar. Tetapi ada kalanya dalam hidup nyata Anda bersilang pendapat dan ada hari-hari di mana anak-anak membuat Anda pusing tujuh keliling. Suasana hati turun naik; perasaan berubah-ubah.
Jadi kata komitmen dipakai untuk menggambarkan cinta kasih yang lain - cinta kasih yang tetap dan pasti yang tidak dipengaruhi perubahan suasana hati atau berlalunya waktu dan keadaan sulit. Cinta kasih itu disadari dan tanpa batas. Komitmen - cinta kasih mengatakan: "Saya putuskan dan berjanji mencintai kamu karena siapa kamu, bukan apa yang kamu lakukan dan bagaimana perasaan saya."
Komitmen menggambarkan jenis cinta kasih yang dituntut Allah untuk diberikan kepada-Nya, cinta yang diperintahkan-Nya dari seorang suami kepada isterinya, cinta kasih yang menjadi dasar dari seluruh hubungan yang abadi - juga hubungan keluarga.
Di pekarang Abot Lodge, rumah J. Sterling Morton, ayah Arbor Day, terdapat sebuah monumen dengan sajak yang meringkaskan komitmen cinta kasih yang indah:
Waktu berlalu
Bunga-bunga mati
Hari-hari yang baru
Cara-cara yang baru
Cinta kasih yang tetap abadi.

UNGKAPKAN/TUNJUKKAN PENGHARAPAN DAN KASIH SAYANG
Saya harus duduk di samping kuburannya dan mengatakan bahwa saya memaafkannya sebelum saya bisa melanjutkan hidup saya." Lane mengaku. Kedengarannya aneh bukan? Tetapi saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Selama saya hidup, tampaknya saya tidak dapat memenuhi keinginannya. Saya telah berusaha keras. Mencapai angka setinggi mungkin. Saya berhasil masuk tim universitas dengan upaya keras dan sikap baja dan mengikuti setiap pertandingan. saya bukan seorang bintang, tetapi saya berusaha keras dan saya berikan 100%.
"Tetapi ia tidak pernah melihatnya. Atau setidak-tidaknya ia tidak pernah mengatakannya.
"Yang saya dengar hanyalah bahwa saya berbuat salah atau bagaimana saya dapat melakukannya lebih baik lagi. Saya tidak pernah sekalipun dalam hidup saya. Sepanjang pengetahuan saya ayah tidak memperdulikan saya. Ia menyediakan atap di atas kepala dan memastikan bahwa ada makanan di meja. Dan saya kira saya harus mensyukuri hal itu. Ada orang yang bahkan tidak memilikinya. Namun, hanya satu yang paling saya dambakan yang tidak pernah saya dapatkan adalah mengetahui bahwa ia mencintai saya. Saya ingin ia mengatakannya dan mengatakan hal-hal lain yang membuktikan kata-kata itu. Saya ingin mendapatkan persetujuannya."
"Beberapa tahun setelah ia meninggal, saya menyadari dengan tidak pernah mendengar hal semacam itu dari ayah yang telah mempengaruhi cara hidup saya dan bagaimana saya dipacu untuk berhasil dalam segala bidang. Saya begitu dipacu sampai melalaikan isteri dan anak saya.
"Akhirnya saya sadar bahwa karena ia telah meninggal, saya tidak akan pernah mendengar kata-kata itu diucapkan betapapun berhasilnya saya. Memang pada hari kematiannya saya sudah mengetahuinya. Tetapi baru setelah dua tahun saya dapat mempercayainya dengan hati.
"Jadi saya pergi ke kuburan dan duduk di samping kuburannya. Saya tahu bahwa ia tidak ada di sana, tetapi ini saya lakukan bukan untuknya. Saya katakan padanya betapa terluka batin saya dan hidup saya menjadi kacau. Saya katakan betapa keras upaya saya untuk mendapatkan kasih sayang dan apresiasinya dan apa pun yang saya lakukan tidak pernah cukup. Saya katakan bahwa karena saya masih tetap berusaha mendapatkan persetujuannya, saya mengabaikan isteri dan anak saya. Kemudian saya katakan bahwa saya akan menjadi ayah yang lebih baik dari dirinya. Saya tidak hanya menyediakan roti di meja dan baju di badan, saya akan mencari alasan untuk mengeluarkan kata-kata manis kepada mereka, dan saya menjamin bahwa sejak hari ini dan seterusnya isteri dan anak saya akan mengetahui setiap hari dalam hidup mereka betapa saya mencintai mereka.
..... bersambung


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.