Komitmen Terhadap Keluarga Anda
Sambungan Minggu, 8 Februari 2015
Dan inilah yang kedua yang kamu lakukan: Kamu menutupi mezbah Tuhan dengan air mata, dengan tangisan dan rintihan, oleh karena Ia tidak lagi berpaling lagi kepada persembahan dan tidak berkenan menerimanya dari tanganmu. Dan kamu bertanya: "Oleh karena apa?" Oleh karena Tuhan telah menjadi saksi antara engkau dan isteri masa mudamu yang kepadanya engkau telah tidak setia, padahal dialah teman sekutumu dan isteri seperjanjianmu. Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan Illahi! Jadi jagalah dirimu. Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. Sebab Aku membenci perceraian, firman Tuhan, juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan, firman Tuhan semesta alam. Maka jagalah darimu dan janganlah berhianat.
Dalam firmanNya, Tuhan menegaskan bahwa jika tidak karena kekerasan hati manusia, perceraian sama sekali tidak ada. Tuhan tidak pernah menginginkannya, dan manusia seharusnya juga tidak menghendakinya.
Tetapi tujuannya di sini adalah bukan hanya tetap dalam perkawinan, tetapi komitmen menjadikan perkawinan sumber segala sesuatunya. Tuhan memerintahkan agar suami mencintai isterinya seperti Tuhan mencintai umat-Nya dan agar ia mencintainya seperti dirinya sendiri. Ia bahkan lebih jauh dengan memberikan pernyataan keras dan menohok, "demikian juga suami harus mengasihi isterinya seperti tubuhnya sendiri." Tuhan juga memerintahkan isteri untuk mencintai suami dan anak-anaknya.
Komitmen untuk tetap hadir dan tidak saling meninggalkan, apapun yang terjadi, adalah dasarnya. Tetapi komitmennya lebih jauh. Yang dikatakan adalah, "Kami akan melakukan segala sesuatu untuk saling mencintai seperti seharusnya kami lakukan."
2. Konsensus Perkawinan termasuk kesetiaan seksual.
Setelah bertahun-tahun meneliti seks secara komprehensif, peneliti terkemuka dunia, William Masters dan Virginia Johnson berkesimpulan bahwa salah satu faktor penyumbang terpenting pada kepuasan dalam hubungan seks adalah komitmen. Keluarga yang kokoh senantiasa telah mengetahuinya. Bacalah apa yang dikatakan beberapa di antara mereka tentang subyek ini :
Saya tahu nampaknya semua orang mempunyai affair - jika gosip dapat dipercaya - tetapi kami kuno dan setia. Saya hanya dapat membayangkan hal-hal jelek dari sebuah perselingkuhan, sakit hati, berbohong, hancurnya keluarga. Setia satu sama lain memperkuat pertalian kami.
Setia satu sama lain secara seksual adalah bagian dari kejujuran satu terhadap yang lain. Bagi kami kesetiaan seksual penting sekali. Ada perasaan aman, mengetahui bahwa Andalah satu-satunya dengan siapa suami/isteri memilih berhubungan seks. Saya kira kebanyakan orang - apapun yang dikatakannya - tidak dapat mengatasi affair. Jika satu dari pasangan mempunyai affair, akibatnya jelek pada harga diri yang lainnya. Sebuah perselingkuhan mengirim pesan merusak : " Engkau tidak istimewa. Engkau bisa diganti" atau "Engkau tidak memuaskan saya secara seksual."
Suami dan para isteri yang menulis komentar itu sangat percaya pada kesucian perkawinan dan tetap berpegang pada komitmen kesetiaan seksual. Standar itu tidak hanya bijaksana: itu adalah firman Tuhan. Di bawah hukum, mereka yang melakukan perzinahan dihukum mati. Dan Tuhan mengatakan: "Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.
Tetapi apakah semua ini berarti bahwa jika sebuah perkawinan mengalami ketidaksetiaan, ia tidak lagi dapat kokoh kembali.
3. Jika Janji Dilanggar
Dalam pikiran orang, komitmen dan kesetiaan seksual begitu dekat hubungannya sehingga suatu affair dilihat sebagai ancaman yang paling berbahaya terhadap perkawinan . Tidak ada "musuh lain" yang lebih berbahaya daripada laki-laki dan wanita. Tidak ada perasaan sakit yang begitu mendalam seperti pengkhianatan suami atau isteri.
Karena sebuah perselingkuhan merupakan ancaman yang begitu potensial, maka penting untuk sejenak mendalami betapa merebaknya seks di luar perkawinan, dinamika yang tersangkut dalamnya, dan yang lebih penting lagi, bagaimana keluarga yang kokoh menghadapi masalah demikian.
Sulit mengatakan secara pasti seberapa merebaknya seks di luar perkawinan di negara ini. Dengan maksud jelas the Cencus Bureau tidak menambahkan pertanyaan tentang hal itu dalam kuesioner yang selalu dikembangkan. Di samping itu, dinamika perselingkuhan sulit dikembangkan. Setiap perselingkuhan bersifat unik. Misalnya, beberapa pasangan melibatkan orang yang tidak dikenal; yang lain dengan teman - mungkin seorang teman akrab dari pasangan atau suami/isteri. Beberapa orang yang sering bepergian hanya mempunyai satu affair, orang lain adalah perayu yang kronis. Hubungan di luar perkawinan berbeda waktunya - dari hubungan yang hanya satu malam, sampai hubungan yang lama.
Salah seorang isteri yang kami wawancarai sadar akan betapa rumitnya permasalahannya.
Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan jika Chuck mempunyai affair dengan orang lain. Saya kira itu akan tergantung pada banyak hal. Jika ia mabuk dalam sebuah konvensi dan melakukan percintaan satu malam, itu lebih mudah diterima daripada jika saya mendapati ia mempunyai affair selama tiga tahun dengan sekretarisnya. Walaupun keduanya menyangkut seks di luar perkawinan dan kedua-duanya menghancurkan hati saya, kelihatannya keduanya tidak sama.
Sementara tidak semua isteri bersikap analitis seperti yang dikutip di atas, pertanyaannya terkait dengan apa yang nampaknya merupakan kesadaran naluri dalam isteri yang disakiti. Ada perbedaan dalam perasaan sakti yang dirasakan mereka yang pasangannya tersangkut dalam hubungan affair dan perasaan sakit yang dirasakan oleh isteri/suami yang tersangkut dalam affair pendek. Semua affair menciptakan perasaan sakit yang mendalam, tetapi kerusakan lebih besar hampir selalu dialami mereka yang suami/isteri tersangkut affair yang panjang.
Dinamika lain juga ikut bermain. Sementara satu kali berselingkuh itu buruk, perselingkuhan berkali-kali begitu merusak sehingga menciptakan skenario di mana hampir tidak mungkin perkawinan tertolong. Sebaliknya, affair satu kali dapat diatasi jika tiap pasangan siap melakukan tugasnya untuk mengatasi affair itu.
Jelas bahwa bagi kesehatan spiritual, emosional, keluarga dan perkawinan seseorang, keterlibatan di luar perkawinan seharusnya bisa dihindari. Komitmen pada Tuhan dan perkawinan dapat merupakan benteng untuk menghambat penyimpangan.
Tetapi kalau memang hal ini terjadi? Apa kemudian yang harus dilakukan?
..... bersambung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.